Seminar Moderasi Beragama Teguhkan Komitmen NKRI dan Toleransi Lintas Iman
Di sebuah aula yang sederhana namun hangat di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, suasana pagi itu terasa istimewa. Tokoh-tokoh lintas agama duduk berdampingan. Mereka dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), WALUBI, MATAKIN, Majelis Protestan, hingga Paroki Katolik.
Para tokoh hadir bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai sahabat dalam satu tujuan yaitu menjaga harmoni dalam keberagaman.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Buleleng bersama Kementerian Agama Kabupaten Buleleng menggelar Seminar Moderasi Beragama bertema “Moderasi Beragama: Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama secara Berkelanjutan di Kabupaten Buleleng”, di Aula PLHUT Kemenag setempat.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Kepala Kemenag Kabupaten Buleleng I Gede Sumarawan, SE., M.Pd.H, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Buleleng Komang Kappa Tri Aryandono, S.IP., M.M, dan Ketua FKUB Dr. I Gde Made Metera, M.Pd., bersama jajaran pemuka agama dari berbagai komunitas.
Komitmen NKRI sebagai Wujud Moderasi
Sebagai narasumber utama, Komang Kappa Tri Aryandono menegaskan bahwa moderasi beragama bukan sekadar konsep keagamaan, melainkan cermin kecintaan pada tanah air.
“Komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bentuk paling nyata dari moderasi beragama,” ujarnya tegas di hadapan peserta.
Menurutnya, sikap moderat harus dimulai dari dalam diri setiap warga, dengan menyeimbangkan keyakinan pribadi dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain. “Agama hadir bukan untuk memisahkan, tapi mempersatukan manusia dalam nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.
Komang menjelaskan, keberhasilan moderasi beragama dapat diukur melalui empat indikator utama:
1. Komitmen kebangsaan, dengan menerima prinsip konstitusi dan dasar negara.
2. Toleransi, dengan menghargai perbedaan dan memberi ruang ekspresi bagi setiap keyakinan.
3. Anti kekerasan, dengan menolak kekerasan fisik maupun verbal.
4. Penerimaan terhadap tradisi lokal, selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Kegiatan yang diikuti perwakilan lintas iman itu berlangsung dengan tertib dan penuh keakraban. Dialog mengalir hangat, memperlihatkan sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan FKUB dalam memperkuat moderasi beragama sebagai fondasi persatuan bangsa.
Kepala Kemenag Buleleng I Gede Sumarawan dalam sambutannya menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai moderasi sejak dini. “Kerukunan tidak tumbuh dari kebetulan, tapi dari kesadaran dan komitmen bersama untuk menghargai perbedaan,” ujarnya.
Menjadi Teladan Harmoni Nusantara
Buleleng, dengan warisan budaya dan keragaman keyakinannya, memang telah lama menjadi miniatur harmoni Nusantara. Melalui forum seperti ini, semangat toleransi dan cinta tanah air diharapkan terus mengakar kuat, bukan hanya dalam seremoni, tetapi juga dalam tindakan nyata masyarakat sehari-hari.
“Dengan semangat toleransi, cinta tanah air, dan penghormatan terhadap keberagaman, masyarakat Buleleng bisa menjadi contoh harmoni bagi daerah lain di Indonesia,” tutup Komang Kappa Tri Aryandono.
Seminar itu berakhir tanpa mengedepankan tepuk tangan meriah, tapi dengan senyum yang sama yakni senyum orang-orang yang percaya bahwa perbedaan bukanlah jurang, melainkan jembatan menuju persaudaraan sejati.



