DI TENGAH denyut kehidupan Kota Palembang yang kian modern, semangat toleransi tetap menjadi denyut nadi kebersamaan. Sabtu (8/11/2025), ratusan umat dari berbagai keyakinan berkumpul di Jalan Brigjen H. Hasan Kasim, Komplek Jaya Raya Garden Blok B.12.
Mereka hadir dalam acara peringatan Ulang Tahun Dewi Kwan In sekaligus meresmikan Musholla Sembilan Bidadari dan Yayasan Sembilan Bidadari Palembang.
Kegiatan tersebut bukan hanya seremoni keagamaan, melainkan juga perwujudan harmoni sosial yang telah lama menjadi ciri khas Palembang—kota yang dikenal ramah terhadap keberagaman.
Hadirnya Enam Rumah Ibadah dalam Satu Kawasan
Di atas lahan yang dikelola Yayasan Sembilan Bidadari berdiri enam rumah ibadah dari enam agama yang diakui di Indonesia:
- Musholla untuk umat Islam,
- Kapel dan gua Maria untuk umat Katolik,
- Tempat ibadah Hindu dan Buddha,
- Serta klenteng untuk umat Konghucu.
Kehadiran enam rumah ibadah dalam satu kawasan menjadi kisah langka yang membanggakan—simbol nyata bahwa toleransi bukan hanya bisa diwacanakan, tetapi diwujudkan dalam tindakan.
“Kehadiran enam tempat ibadah dalam satu kawasan merupakan cerita yang membanggakan. Ini dapat menjadi destinasi wisata religi di Palembang dan menunjukkan betapa tingginya toleransi yang dibangun oleh Suhu Dewi,” ujar Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol. Dr. Harryo Sugihhartono, S.I.K., M.H., yang turut hadir dalam acara tersebut.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan sebagai fondasi bagi terciptanya kedamaian kota.
“Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan tiap agama harus terus ditingkatkan agar keberkahan dan keridaan Tuhan tercurah bagi seluruh warga,” tambahnya.
Apresiasi dari Pemerintah Kota Palembang
Dalam acara yang sama, Wali Kota Palembang melalui sambutan yang dibacakan Bais, menyampaikan pernyataan resminya. Pemerintah Kota memberikan apresiasi tinggi terhadap kiprah Yayasan Sembilan Bidadari yang telah berkontribusi nyata selama 19 tahun terakhir.
“Yayasan Sembilan Bidadari telah menjadi simbol bahwa perbedaan adalah kekuatan dan keberagaman merupakan keindahan,” jarnya.
“Selama 19 tahun, yayasan ini telah memberikan kontribusi nyata dalam sektor sosial, keagamaan, dan pembangunan masyarakat Palembang yang berdaya, berkarakter, serta menjunjung tinggi toleransi,” lanjutnya.
Ia juga berharap musholla yang baru diresmikan dapat menjadi ruang ibadah yang mempererat tali persaudaraan antarumat beragama dan memperkokoh semangat kebersamaan di kota ini.
Spirit Suhu Dewi dan Yayasan Sembilan Bidadari
Ketua DPD Majubuthi Sumsel sekaligus pimpinan yayasan, Suhu Dewi, menyampaikan rasa syukurnya atas usia yayasan yang kini genap 19 tahun. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Yayasan Sembilan Bidadari tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat spiritual lintas iman yang membawa pesan damai bagi semua.
“Kami berdoa agar umat dijauhkan dari marabahaya, diberi rezeki, dan bangsa ini semakin maju. Ini adalah wujud kontribusi spiritual Majubuthi bagi kemajuan bangsa,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa semangat toleransi dan kerukunan akan terus menjadi nilai utama yang dijaga yayasan agar mampu memberi dampak positif, tidak hanya di Sumatera Selatan, tetapi juga bagi seluruh Indonesia.
Teladan Kebhinekaan dari Bumi Sriwijaya
Kisah Yayasan Sembilan Bidadari adalah kisah tentang kebhinekaan yang hidup dalam harmoni. Di saat dunia kerap diwarnai perpecahan karena perbedaan, Palembang justru menunjukkan wajah lain—wajah Indonesia yang damai, terbuka, dan saling menghormati.
Enam rumah ibadah berdiri berdampingan, enam keyakinan bersuara dalam satu harmoni. Dari Palembang, pesan ini menggema: bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan alasan untuk bersatu.



