DI PANGGUNG diplomasi, seringkali yang terlihat adalah gestur formal, jabat tangan kaku, dan pernyataan-pernyataan yang dirancang dengan cermat. Tapi, adakalanya, ada sesuatu yang melampaui sekat-sekat protokoler itu: sebuah narasi persahabatan personal yang tumbuh dari masa lalu yang sama-sama keras.
Inilah yang terjadi pada hubungan antara Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Raja Yordania Hasyimiah, Abdullah II ibn Al Hussein. Bukan sekadar hubungan bilateral biasa, yang dibingkai oleh kepentingan negara (meski itu niscaya ada), melainkan sebuah ikatan emosional yang bermula di barak militer Amerika Serikat, di Fort Benning, Georgia, puluhan tahun silam.
Lebih dari tiga dekade silam, pada era 1980-an Di sana, seorang perwira muda Indonesia bernama Prabowo Subianto bertemu dengan seorang pangeran militer Yordania, Abdullah bin Al-Hussein. Mereka, dalam kerangka waktu yang ringkas, berbagi nilai-nilai universal korps militer: disiplin, loyalitas, dan keberanian.
Sebuah tempat, dan waktu, yang menempa kedua pemuda —menjadi pemimpin di masa depan. Mereka berbagi keringat, disiplin, dan mungkin, impian tentang tugas dan kehormatan. Mungkin juga sebuah ikatan yang, pada mulanya, hanya sekadar interaksi kasual antar-alumni akademi militer, namun takdir kemudian memberinya panggung geopolitik yang signifikan.
Sejarah mencatat, kedekatan ini berlanjut melampaui pendidikan militer mereka. Ketika Prabowo menghadapi masa-masa sulit pasca-reformasi di Indonesia pada tahun 1998, Yordania, di bawah mendiang Raja Hussein, ayahanda Abdullah II, menjadi semacam tempat singgah, tempat bernaung.
Raja Abdullah II mengenang momen itu dengan hangat, menceritakan bagaimana ayahnya menerima Prabowo bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai “saudara” dalam keluarga besar mereka. Sebuah keramahan yang menolak logika politik transaksional yang seringkali mendominasi hubungan antarnegara.
Waktu bergulir, dan kedua sosok itu kini memegang kemudi negara masing-masing. Prabowo, setelah menempuh jalan berliku di rimba politik domestik, kini duduk di kursi kepresidenan Indonesia. Abdullah II, pewaris tahta wangsa Hashemite, memimpin sebuah monarki konstitusional yang strategis di jantung Timur Tengah yang bergejolak.
Pertemuan mereka di masa kini, entah di Amman (April 2025) atau di Jakarta (November 2025), bukan lagi sekadar reuni kawan lama, melainkan sebuah simpul diplomasi yang diperkuat oleh memori personal. Dan, kini bertahun-tahun kemudian, narasi personal itu bertransformasi menjadi modal diplomatik yang kuat. Kunjungan Raja Abdullah II ke Jakarta baru-baru ini, disambut langsung oleh Presiden Prabowo, bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa.
Ia adalah manifestasi dari “persaudaraan” yang melampaui diplomasi formal, seperti ditegaskan oleh Prabowo. Kehangatan dalam pertemuan mereka, pertukaran penghargaan tertinggi dari masing-masing negara, adalah simbol dari rasa saling percaya yang mendalam.
Dalam konteks geopolitik yang bergejolak, terutama di Timur Tengah dengan krisis di Gaza, persahabatan ini menemukan relevansinya yang paling nyata. Indonesia dan Yordania, dua negara dengan populasi Muslim yang signifikan, sama-sama berdiri di garis depan dalam membela hak-hak rakyat Palestina untuk merdeka.
Ikatan personal antara kedua pemimpin memungkinkan koordinasi yang lebih efektif, suara yang lebih padu, dalam upaya mencari solusi damai yang adil. Mereka berdua tidak hanya berbicara sebagai kepala negara, tetapi sebagai individu yang pernah berbagi pengalaman hidup, yang memahami nilai kesetiaan dan dukungan di saat genting.
Relasa keduanya menunjukkan bahwa yang privat bisa juga bertemu dengan yang publik. Persahabatan ini menjadi semacam matriks (cetakan) baru dalam hubungan bilateral. Kunjungan kenegaraan tidak lagi terasa kering oleh formalitas semata.
Tentu saja ada pemandangan yang mengharu- biru ketika Raja Abdullah II menyopiri langsung Prabowo dengan mobilnya di bandara militer Amman, atau ketika Prabowo mengungkapkan “ikatan emosional” dengan Yordania, kita melihat sebuah gestur yang melampaui teks-teks perjanjian. Ada nuansa “salam sejahtera” yang tulus dalam interaksi mereka.
Ini berarti ikatan personal bisa berfungsi sebagai katalisator untuk kerja sama strategis yang lebih dalam. Isu Palestina, yang menjadi perhatian krusial kedua negara, menemukan resonansi yang kuat dalam diskusi mereka. Yordania, dengan perbatasan langsung dan peran historisnya dalam isu Palestina, menemukan mitra yang konsisten dalam diri Indonesia dan Prabowo, yang secara tegas mendukung hak rakyat Palestina untuk merdeka.
Kunjungan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan pada Juni 2024 ke Yordania, untuk menghadiri konferensi tanggap darurat Gaza, adalah bukti nyata komitmen ini. Di luar isu kemanusiaan, kolaborasi militer dan pertahanan juga menguat.
Nota kesepahaman (MoU) ditandatangani, membuka jalan bagi kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia dan pelatihan bersama. Ini adalah diplomasi yang, “melestarikan nilai-nilai lama yang baik” (persahabatan, dukungan kemerdekaan) sekaligus “menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik” (kerja sama pertahanan modern, solusi konkret untuk krisis regional).
Pada akhirnya, hubungan Prabowo-Abdullah II adalah sebuah pengingat bahwa dalam panggung politik global yang sering kali sinis, sentuhan personal masih memegang peran penting. Ia bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan –sekali lagi– sebuah arsitektur relasi yang unik, di mana kenangan masa muda di barak militer bertransformasi menjadi jembatan kokoh bagi kemitraan dua bangsa di masa depan.
Raja Yordania memuji kepemimpinan Prabowo dan melihat peluang strategis yang terbentang, sebuah pandangan optimis yang bertolak belakang dengan lanskap Timur Tengah yang murung dan penuh ketegangan. Dalam kisah ini, kita menemukan sedikit cahaya tentang bagaimana persahabatan dapat, setidaknya secara perlahan, ikut membentuk sejarah.
Maka, diplomasi tidak selalu tentang meja perundingan yang dingin dan penuh perhitungan. Terkadang, ia juga tentang ingatan masa lalu, tentang janji persaudaraan yang terucap di masa muda, dan tentang bagaimana ikatan personal dapat menjadi jembatan bagi kepentingan yang lebih besar: perdamaian dan stabilitas global. Wallahu’alam bishawab.



