Damai Mulai dari Meja Makan: Kenapa Keluarga Jadi Kunci Utama Toleransi

Oleh: KM Rijal, Penggiat Media Sosial untuk Perdamaian dan Toleransi

YO, guys! Di era medsos yang penuh drama dan perdebatan panas soal agama, politik, atau bahkan pilihan musik favorit, pernah nggak sih kalian mikir, “Kok bisa ya orang-orang gampang banget bentrok?” Nah, menurut gue, jawabannya nggak jauh-jauh dari rumah kita sendiri.

Keluarga itu seperti fondasi rumah. Kalau goyah, seluruh bangunan bisa ambruk. Dan dalam konteks masyarakat Indonesia yang super beragam, keluarga lah yang jadi starting point buat bangun kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

Bukan dari konferensi mewah atau pidato pejabat penting, tapi dari obrolan santai di ruang tamu atau meja makan.

Mari kita bahas lebih dalam, yuk!Bayangin aja, kerukunan dan kedamaian itu nggak lahir dari forum-forum besar kayak pertemuan internasional atau demo massal. Justru, semuanya dimulai dari skala kecil: keluarga.

Gue setuju banget sama pepatah yang bilang, “Damai dimulai dari rumah.” Kenapa? Karena di keluarga lah nilai-nilai dasar seperti saling menghargai dan toleransi pertama kali ditanam. Bukan cuma di sekolah atau masjid/gereja, tapi sejak bangun tidur sampe tidur lagi.

Kalau dari kecil udah diajarin buat nggak beda-bedain orang berdasarkan agama atau latar belakang, nanti pas dewasa, mindset itu bakal nempel kuat. Ini bukan teori doang, lho! Penelitian dari psikologi sosial bilang bahwa pola asuh di rumah mempengaruhi cara seseorang berinteraksi di masyarakat.

Jadi, kalau rumah tangga kita harmonis, efeknya bakal nyebar kayak virus positif ke tetangga, kampung, bahkan negara.

Gue punya opini kuat di sini: Membangun kerukunan keluarga itu pondasi utama buat kerukunan nasional. Coba deh liat Indonesia, negara dengan ribuan suku dan agama. Kalau tiap keluarga nggak ajarin anaknya buat rukun, gimana mau damai secara nasional? Kerukunan yang dimulai dari ruang tamu sebuah rumah bakal memancar ke luar.

Misalnya, kalau di rumah kita biasa diskusi terbuka soal perbedaan keyakinan tanpa ribut, anak-anak bakal bawa sikap itu ke sekolah atau lingkungan sosialnya. Lambat laun, ini jadi bibit toleransi yang tumbuh besar, bikin masyarakat lebih kuat menghadapi konflik.

Wawasan gue: Di negara-negara seperti Singapura atau Kanada, yang dikenal harmonis, pendidikan toleransi dimulai dari keluarga dan didukung kebijakan pemerintah. Kita di Indonesia bisa banget tiru itu, tapi mulai dari yang sederhana dulu.

Contoh nyata? Bayangin seorang ibu yang ngajarin anaknya soal “cinta damai dan kasih tanpa pandang bulu.” Nggak beda-bedain temen berdasarkan agama, suku, atau warna kulit. “Eh, Nak, meskipun tetangga kita beda keyakinan, tetep saling bantu ya,” kata si ibu sambil masak bareng. Ini bibit toleransi yang seharusnya ditanam sedini mungkin.

Kenapa penting? Karena anak-anak sekarang bakal hadapi dunia yang makin kompleks,.dari isu radikalisme online sampe konflik sosial di kampus. Kalau dari kecil udah punya fondasi kuat, mereka nggak gampang terprovokasi.

Gue inget cerita temen gue: Keluarganya campur agama, tapi mereka selalu rayain hari besar bareng. Hasilnya? Dia jadi orang yang super open-minded, dan itu nyebar ke circle pertemanannya. See? Efek domino positif!

Tapi, jujur aja, nggak semua keluarga sempurna. Ada yang sibuk kerja, atau bahkan ada konflik internal. Opini gue: Ini tantangan, tapi juga peluang. Mulai aja dari hal kecil, seperti makan malam bareng tanpa gadget, obrolan soal hari ini, atau bahkan nonton film yang ngajarin nilai toleransi.

Pemerintah juga bisa bantu lewat program edukasi keluarga, tapi ujung-ujungnya, tanggung jawab ada di kita masing-masing. Kalau tiap rumah jadi “forum kecil” damai, bayangin betapa kerennya Indonesia nanti—negara yang bener-bener Bhineka Tunggal Ika, nggak cuma slogan.

Intinya, guys, kerukunan nggak turun dari langit. Itu dibangun dari bawah, dari keluarga kita sendiri. Jadi, yuk mulai hari ini: Ajak keluarga diskusi santai soal toleransi. Siapa tau, dari meja makanmu, lahir generasi yang bikin Indonesia lebih damai. Peace out!

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Jalin Kerjasama

GemaMerahPutih.com terbuka untuk kolaborasi dan kerjasama dengan seluruh lapisan masyarakat maupun lembaga. Silahkan hubungi kami:

Jenis Kerjasama

Form Pengaduan

Silahkan tuliskan pengaduan Anda di dalam form berikut: