Di tengah gemuruh dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan dan krisis lingkungan, Indonesia memilih jalan sunyi. Ia mengajak dunia berbicara dari hati ke hati. Inilah yang diperlihatkan Konferensi Tri Hita Karana, pada Kamis, 17 Juli 2025.
Perhelatan yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman, budaya, dan bangsa untuk merajut kembali benang-benang harmoni.
Di sana, di bawah semilir angin pantai dan langit Bali yang bersahabat, Wakil Menteri Agama H. R. Muhammad Syafi’i, yang akrab disapa Romo Syafi’i, menegaskan nilai harmoni tersebut. Indonesia bukan hanya rumah dari ratusan etnis dan agama, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur yang layak diperkenalkan ke panggung global.
“Kami mengapresiasi acara ini sebagai medium Indonesia mengenalkan praktik baik harmoni antarumat dan hubungan manusia dengan alam ke dunia internasional,” ujar Romo Syafi’i dalam pidatonya yang tenang namun menggetarkan.
Filosofi Lokal, Resonansi Global
Konferensi ini mengangkat tema “Dialog Hati ke Hati dengan Film dan Media”, yang diselenggarakan oleh United in Diversity Foundation bersama mitra strategisnya.
Forum ini menjadi ruang reflektif, bukan hanya seremonial, untuk membumikan filosofi Tri Hita Karana, ajaran Bali kuno yang menekankan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).
Romo Syafi’i menyebut bahwa nilai-nilai ini sangat dekat dengan ajaran Islam. Hablum minallah (hubungan dengan Tuhan), hablum minannas (hubungan dengan manusia), dan hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan).
“Tri Hita Karana adalah konsep lokal dengan makna universal,” ungkapnya, menandaskan bahwa dunia kini butuh pendekatan spiritual yang lebih dalam, bukan sekadar solusi teknokratis.
Menghidupkan Spirit Istiqlal
Dalam forum yang juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Wamen PPPA Veronica Tan, dan Presiden UID Foundation Tantowi Yahya, Romo Syafi’i turut membawa semangat Istiqlal Declaration, sebuah deklarasi yang mendorong perdamaian antaragama yang digagas dari jantung Jakarta.
“Saya bersyukur karena pesan Istiqlal Declaration terus bergema dan bersinergi dengan semangat Tri Hita Karana,” kata Romo Syafi’i.
Bukan tanpa sebab, pendekatan reflektif berbasis hati ini disebut sebagai “Hati ke Hati Invitation”. Ini bukan sekadar ajakan untuk berdialog, tetapi upaya membangun ruang perjumpaan yang jujur, otentik, dan damai.
“Pendekatan dari hati ke hati menjadi refleksi otentik bahwa kedamaian dan kerukunan harus lahir dari ketulusan dan kesadaran bersama,” tutur Romo Syafi`i.
Baginya, kedamaian sejati lahir dari ketulusan dan kesadaran kolektif, itu bukan dari kompromi yang rapuh atau diplomasi basa-basi.
Bali sebagai Jendela Baru Diplomasi Spiritual
Tak bisa dimungkiri, Konferensi Tri Hita Karana menjadi panggung soft power baru Indonesia. Di mana, ketika narasi perdamaian dan keberlanjutan dikemas bukan dalam dokumen formal, melainkan melalui bahasa film, seni, dan budaya.
Di tangan United in Diversity Foundation, diplomasi spiritual ini menjadi strategi global yang tak kalah penting dari diplomasi ekonomi atau militer.
Dari Bali, nilai-nilai harmoni itu diharapkan menjalar. Bukan hanya sebagai etalase eksotis Asia Tenggara, tetapi sebagai model konkret bagaimana sebuah bangsa bisa mengelola keberagaman, menjaga lingkungan, dan menebar damai dari akar budaya sendiri.
“Tri Hita Karana harus terus diamplifikasi secara global dan ditanamkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari,” kata Romo Syafi’i memungkasi.
Dan hari itu, di Kura Kura Bali, Indonesia tidak sedang mengajar. Ia sedang mengajak. Bukan menggurui, tapi berbagi. Bukan mendikte, tapi merangkul.
Konferensi Tri Hita Karana merupakan bagian dari upaya lintas sektor. Dari pemerintah, pelaku bisnis, hingga komunitas sipil. Untuk memperkuat ekosistem pembangunan berkelanjutan berbasis nilai-nilai lokal.
Sejak awal, gerakan ini didorong oleh United in Diversity (UID), yang juga dikenal lewat inisiatif-inisiatif inklusif seperti Academy of Change dan THK Forum yang kerap menggandeng tokoh global, seperti World Bank, UNDP, hingga tokoh spiritual dunia.
Sumber: Wamenag: Praktik Harmoni Indonesia Layak Ditunjukkan ke Dunia



