Oleh: KM Rijal, Penggiat Media Sosial untuk Toleransi dan Perdamaian
SETIAP tanggal 16 November, dunia memperingati Hari Toleransi Internasional. Buat kita anak muda Indonesia, apa sih artinya? Nggak cuma sekadar slogan “hidup rukun” di media sosial, tapi lebih dari itu.
Di era yang penuh dengan informasi dan perbedaan yang saling bentrok, toleransi ternyata adalah senjata rahasia bangsa kita untuk tetap kuat dan nggak gampang terpecah belah. Inilah yang disebut Ketahanan Nasional.
Bayangkan negara ini seperti sebuah squad game online. Ketahanan Nasional itu kayak durability atau ketangguhan squad kita secara keseluruhan. Bukan cuma kuat menghadapi serangan dari luar (player lain), tapi juga stabil dan solid dari dalam, nggak gampang toxic dan bubar hanya karena ada perbedaan strategi atau karakter anggota.
Kekuatan Kita Ada pada Keragaman, Bukan Keseragaman
Indonesia itu ibaratnya collab terbesar di platform kreator. Ada ratusan suku, bahasa, dan agama yang berkumpul. Kerennya, kita punya prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Ini bukan berarti kita harus seragam dan sama persis. Justru, kita bersatu karena perbedaan kita. Kekayaan budaya dan cara pandang inilah yang bikin kita kaya akan solusi ketika menghadapi masalah.
Nah, toleransi adalah modal utama untuk menjaga collab raksasa ini tetap harmonis. Dengan saling menghargai, energi kita nggak habis untuk ribut internal, tapi bisa fokus untuk membangun bangsa dan menghadapi tantangan global bersama-sama.
Gimana Sih, Cara Kita “Nge-game” buat Perkuat Toleransi?
Teori oke, tapi prakteknya gimana? Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda:
1. Dari “Open Mind” sampai “Open DMs”
Inti toleransi dimulai dari pikiran yang terbuka. Cobalah untuk benar-benar mengenal dan ngobrol dengan teman yang berbeda latar belakang. Jangan cuma lewat feed medsos, tapi jalin komunikasi langsung. Dari sekadar open mind, lanjut ke open heart (ada empati), dan akhirnya jadi berani open house — saling mengunjungi dan belajar langsung. Ini adalah vaksin terbaik melawan radikalisme dan ujaran kebencian.
2. Jadi “Content Creator” untuk Perdamaian
Kita adalah generasi yang melek digital. Gunakan kekuatan ini! Sebarkan konten-konten yang mempromosikan kerukunan, cerita-cerita inspiratif tentang kolaborasi lintas agama dan suku, serta kontra-narasi terhadap hoaks dan ujaran kebencian. Jadilah influencer yang menebar kedamaian, bukan perpecahan.
3. Jadikan Pancasila sebagai “Main Character”
Empat konsensus kebangsaan kita—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bukanlah sekadar hafalan pelajaran PKN. Itu adalah rule book dasar agar squad kita tetap solid. Nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan dalam Pancasila adalah panduan utama untuk bersikap adil dan bijaksana dalam perbedaan.
Kesimpulannya? Solid Squad, Strong Nation.
Jadi, memperingati Hari Toleransi tahun ini, mari kita geser perspektif. Toleransi bukanlah hal yang pasif dan membosankan. Ia adalah aksi aktif kita sehari-hari untuk menjaga kesatuan squad bangsa Indonesia.
Dengan menjadi pribadi yang lebih toleran, kita secara langsung sedang meningkatkan ketahanan nasional. Kita membuat Indonesia menjadi lebih tangguh, lebih kreatif, dan lebih damai. Dan percayalah, di tangan generasi muda yang mampu melihat perbedaan sebagai kekuatan, masa depan Indonesia akan tetap solid dan nggak tergoyahkan.
Ayo, mulai dari kita, mulai sekarang!



