Tjhai Chui Mie dan Semangat Toleransi dari Kota Seribu Kelenteng

DI SEBUAH sudut Jalan GM Situt, Gang Bakti, suasana penuh kebersamaan terasa hangat pada Sabtu pagi, 8 November 2025. Puluhan warga lintas agama tampak hadir, menyaksikan peresmian Vihara Ju Sin, rumah ibadah baru yang kini menjadi simbol baru kerukunan di Kota Singkawang.

Di tengah keramaian itu, Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie berdiri dengan senyum hangat. “Toleransi sangat penting. Masyarakat Singkawang bisa hidup rukun dan penuh kekeluargaan karena memiliki rasa memiliki dan menjaga kota ini bersama-sama,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah.

Baginya, peresmian vihara ini bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia menandai sesuatu yang lebih dalam: penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta kasih universal yang menjadi fondasi kehidupan di kota yang dijuluki Kota Seribu Kelenteng itu.

Kerukunan yang Tumbuh dari Akar Budaya

Hadir pula sejumlah tokoh penting, mulai dari Wakil Wali Kota Singkawang, Pembimas Buddha Kemenag Kalbar Yanto, S.E., S.Pd.B., unsur TNI-Polri, FKUB, hingga tokoh masyarakat lintas agama. Kehadiran mereka mencerminkan betapa kuatnya jejaring sosial yang menopang keharmonisan Singkawang.

Tjhai Chui Mie dalam kesempatan itu tak lupa menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang berkontribusi menjaga kedamaian.

“Terima kasih kepada TNI, Polri, tokoh masyarakat, serta semua pihak atas kontribusinya menjaga kerukunan di Singkawang,” katanya.

Bagi Tjhai, sebuah vihara tak hanya berdiri sebagai bangunan spiritual, tapi juga manifestasi karakter umat Buddha — welas asih, tenang, dan menebar kasih sayang.

“Vihara bukan sekadar gedung, tetapi wujud dari karakter umat Buddha yang memiliki cinta kasih universal kepada mereka yang lebih membutuhkan,” ujarnya menegaskan.

Singkawang, Miniatur Indonesia yang Damai

Kota Singkawang memang dikenal luas sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia. Populasi yang terdiri dari beragam etnis — Tionghoa, Melayu, Dayak, dan lainnya — telah hidup berdampingan selama puluhan tahun. Tak heran jika kota ini sering menjadi rujukan dalam studi tentang pluralisme sosial dan keberagaman budaya.

Bagi Pemerintah Kota Singkawang, menjaga kerukunan bukanlah sekadar program kerja, melainkan komitmen moral dan sosial. Dalam banyak kesempatan, Tjhai Chui Mie menegaskan bahwa harmoni harus dijaga bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Tugas menjaga toleransi bukan hanya milik pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika semua memiliki kesadaran untuk menghargai perbedaan, maka kedamaian akan tumbuh dengan sendirinya,” tuturnya.

Jejak Kepemimpinan yang Membangun Kesadaran

Dalam lima tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Tjhai Chui Mie, Singkawang tak hanya dikenal karena keindahan kotanya dan keberagaman budayanya. Ia juga menjadi model kota inklusif yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Peresmian Vihara Ju Sin menjadi satu dari sekian langkah nyata untuk memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat. Di kota ini, perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan mozaik yang memperindah wajah kebangsaan.Dan dari Singkawang, pesan itu kembali bergema:bahwa toleransi bukan slogan, melainkan napas kehidupan yang terus dijaga bersama.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Jalin Kerjasama

GemaMerahPutih.com terbuka untuk kolaborasi dan kerjasama dengan seluruh lapisan masyarakat maupun lembaga. Silahkan hubungi kami:

Jenis Kerjasama

Form Pengaduan

Silahkan tuliskan pengaduan Anda di dalam form berikut: