Oleh: KM Rijal, Penggiat Media Sosial untuk Perdamaian dan Toleransi
YO, gen Z dan millennials! Di tengah timeline medsos yang sering bikin panas soal perbedaan agama, suku, atau budaya, pernah nggak sih kalian mikir, “Kenapa sih kita nggak bisa santai aja sama yang beda?” Indonesia ini kan negara majemuk banget, dari Sabang sampai Merauke, ribuan suku, bahasa, dan keyakinan hidup bareng.
Ini bukan sekadar kebetulan, tapi anugerah dari Tuhan buat kita saling kenal dan kolaborasi, bukan malah ribut atau saling caci. Bayangin kalau semuanya seragam, dunia bakal boring abis, kan?
Nah, opini gue: Kesadaran ini harus banget ditanam dalam diri kita sejak dini, karena alam semesta aja penuh variasi—dari bintang sampe mikroba. Tapi realitanya, keberagaman ini sering jadi sumber konflik.
Coba deh liat data dari Laporan Setara Institute 2021 tentang kondisi kebebasan beragama di Indonesia tahun 2020: Ada sekitar 422 tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan. Dari jumlah itu, 184 dilakukan oleh aktor non-negara seperti kelompok warga, individu, atau ormas.
Yang paling banyak? Intoleransi, dengan 62 tindakan, diikuti pelaporan penodaan agama (32), penolakan pendirian rumah ibadah (17), dan pelarangan aktivitas ibadah (8). Ini nggak main-main, guys—data ini nunjukin kalau tanpa toleransi sejati, keberagaman bisa jadi bom waktu.
Di sini, gue mau bahas kenapa toleransi yang dibungkus cinta itu kunci, bukan cuma koeksistensi ala kadarnya, dan gimana kita bisa action dari sekarang.
Belum lama ini, di Sarasehan Ulama NU 2025, Menteri Agama Nasaruddin Umar ngasih pesan keren soal ini. Beliau bilang, koeksistensi dan toleransi itu beda banget. Koeksistensi tuh kayak, “Lo di sana, gue di sini, kita hidup bareng tapi jangan ganggu-gangguan.” Kayak tetangga yang saling cuek, nggak saling sapa atau bantu. Tapi toleransi? Itu level up! Bukan cuma hadir bareng, tapi diikat sama rasa cinta sebagai sesama manusia.
Ada ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan tanah air), dan ukhuwah nahdliyin (persaudaraan komunitas).
Jadi, toleransi itu bikin kita nggak cuma berdampingan, tapi saling dukung dan kolaborasi. Wawasan gue: Di masyarakat majemuk kayak Indonesia, kalau cuma koeksistensi, gampang banget pecah konflik kecil jadi besar, apalagi liat data Setara tadi yang nunjukin intoleransi masih tinggi. Tapi dengan toleransi yang dibungkus cinta, kita bisa bangun masyarakat yang solid dan tahan banting.
Lanjut, agama jangan dipandang dogmatis doang—harus kontekstual dan rasional, nggak cuma tekstual. Artinya, ajaran agama diterapin sesuai zaman, biar lahir sikap inklusif yang bikin perilaku kita positif. Semua agama kan ajarin saling kasih, hargai, dan sinergi buat kebaikan.
Coba liat Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13: “Innâ khalaqnâkum min dzakarin wa untsâ wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafû” yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menafsirkan ini sebagai pengakuan Islam atas perbedaan—antara laki-perempuan, suku, atau bangsa. Perbedaan itu sunnatullah, kehendak Tuhan, tapi yang dilarang adalah perpecahan (tafarruq).
Jadi, opini gue: Perbedaan bukan musuh, tapi rahmat buat saling kenal dan tumbuh bareng. Kalau kita syukuri, ini bisa jadi modal buat Indonesia maju, seperti kolaborasi antar agama dalam penanganan bencana atau pembangunan sosial.
Gus Dur juga bilang, perbedaan keyakinan (aqidah) nggak perlu dipaksa sama. Masing-masing punya kebenaran sendiri, tapi itu nggak halangi kerjasama di muamalah (urusan sosial). Kita bisa sinergi buat ciptain kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bareng, meski bentuknya beda-beda. Ini relevan banget di era sekarang, di mana isu radikalisme atau diskriminasi sering muncul gara-gara salah paham, kayak yang tergambar di laporan Setara.
Hidup bareng atas dasar cinta itu kayak surga di bumi—penuh damai dan tenang. Mahatma Gandhi pernah bilang, “Jika kamu hendak menemukan kebenaran dari Tuhan, satu-satunya maksud yang tak terelakan adalah Cinta, yaitu, tanpa kekerasan, dan karena Saya yakin bahwa cara dan tujuan adalah yang dapat diubah, Saya tidak akan ragu untuk mengatakan bahwa Tuhan adalah Cinta.” Keren kan? Cinta tanpa kekerasan itu fondasi segalanya.
Nah, tambah inspirasi dari Nelson Mandela, tokoh legendaris yang sukses bawa rekonsiliasi di Afrika Selatan pasca-apartheid. Beliau bilang, “It is not our diversity which divides us; it is not our ethnicity, or religion or culture that divides us.”
Menurut gue, ini reminder kuat buat kita di Indonesia: Keberagaman nggak memecah, tapi justru bisa satukan kalau kita punya sikap toleran. Mandela juga tekankan rekonsiliasi nasional, di mana kita harus bertindak bareng sebagai bangsa yang bersatu buat bangun dunia baru yang adil. Bayangin, dari pengalaman dia yang keluar penjara setelah 27 tahun dan malah ajak musuhnya kolaborasi—itu level toleransi yang bener-bener dibungkus cinta. Kita bisa ambil pelajaran: Di tengah data pelanggaran seperti di Setara, kita butuh lebih banyak cerita rekonsiliasi kayak gini buat lawan intoleransi.
Dari semua ini, gue simpulkan beberapa poin utama buat kita renungin dan action-kan:
Pertama, Bangun kesadaran hidup berdampingan dengan keberagaman—suku, budaya, agama—dan ikat dengan cinta kasih. Nggak cuma eksis bareng, tapi saling angkat satu sama lain, biar nggak ada lagi pelanggaran intoleransi kayak yang 62 kasus di 2020 itu.
Kedua, Perbedaan adalah rahmat Tuhan. Syukuri, karena itu cara kita saling kenal dan berkembang. Jangan jadikan alasan buat benci atau pisah, apalagi sampe nolak rumah ibadah atau larang ibadah seperti di laporan Setara.
Ketiga, Persatuan adalah prioritas. Cegah perpecahan dengan sikap inklusif, kolaborasi, dan hindari tafarruq yang bikin masyarakat retak. Ini kayak pesan Gus Dur: Kerjasama di muamalah meski aqidah beda.
Keempat, Agama sebagai panduan kontekstual. Terapkan ajaran secara rasional biar lahir perilaku baik, bukan dogmatis yang malah picu konflik. Semua kitab suci, termasuk Qur’an, ajarin saling mengasihi dan sinergi.
Kelima, Rekonsiliasi ala Mandela: Belajar dari tokoh global buat lawan diskriminasi. Ingat, keberagaman nggak memecah—yang memecah adalah kurangnya toleransi. Data Setara nunjukin kita masih punya PR besar, jadi yuk mulai dari diri sendiri.
Guys, mari refleksikan: Sudahkah kita terima perbedaan, atau malah mengancam yang berbeda? Mulai dari pikiran, lalu perbuatan—tanam toleransi sejati biar hidup kita seterang matahari, seindah bunga, dan penuh berkah. Indonesia butuh generasi muda seperti kita buat mewujudkan ini, terutama pasca data-data mengkhawatirkan kayak gini. Yuk, action sekarang! Peace. (*)



