Oleh: Ghaniya Salma, Content Creator
MUKTAMAR bukan hanya tentang memilih pemimpin atau menentukan arah organisasi, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar mengelola perbedaan dengan adab. Setelah muktamar selesai, sesungguhnya ujian yang lebih penting dimulai: mampukah kita kembali merajut kebersamaan?
Perbedaan pilihan dalam muktamar adalah hal yang wajar. Namun, jangan sampai perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan. Pilihan politik atau organisasi mungkin hanya berlangsung sesaat, sementara persaudaraan jauh lebih panjang.
Oleh karena itu, siapa pun yang menang harus mampu merangkul, dan mereka yang belum mendapatkan amanah hendaknya tetap berkontribusi dengan lapang dada.
Di tengah derasnya arus media sosial, menjaga lisan dan sikap menjadi semakin penting. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan, dan tidak setiap kritik harus dibalas dengan kemarahan. Justru setelah kontestasi berakhir, kedewasaan kita diuji melalui kemampuan untuk menahan diri, menghormati pihak lain, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Kerukunan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Kerukunan adalah kemampuan untuk tetap bersaudara meskipun berbeda pandangan.
Pasca-muktamar ini dengan hati yang lapang dan memulai kembali pengabdian dengan semangat kebersamaan. Muktamar boleh selesai, tetapi adab, persaudaraan, dan kerukunan harus terus kita rawat.



