Densus 88 dan Kemenag di Sumsel Gencarkan Moderasi, 48 Eks-JI Jalan Menuju Wasathiyah

SATGAS Wilayah Sumatera Selatan Densus 88 Anti-Teror Polri menggelar kegiatan Transformasi Ideologi bertajuk “Jalan Menuju Wasathiyah: Membangun Kesadaran Baru Ideologi Sehat dan Moderat”. Acara ini diikuti 48 peserta yang merupakan mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kota Palembang.

Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Hotel Fave Palembang pada Rabu (16/9/2026) dan dibuka langsung oleh Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan Syafitri Irwan, bersama Kasatgaswil Densus 88 Kombes Polisi Beni Kusworo, Direktur Intelkam Polda Sumsel Kombes Polisi Tony Budhi Susetyo, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Kemenag Apresiasi Inisiatif Densus 88

Syafitri Irwan menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Densus 88 Anti-Teror atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan ini. Menurutnya, merawat kerukunan dan pemahaman moderasi beragama bukanlah agenda sekali selesai, melainkan proses yang harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.

“Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Densus 88. Merawat kerukunan dan moderasi beragama ini tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus berkelanjutan dan terus-menerus,” tegas Kakanwil Kemenag Sumsel.

Ia menegaskan komitmen Kementerian Agama memperkuat moderasi beragama di seluruh tingkatan, mulai dari penguatan wawasan ASN hingga pembinaan masyarakat umum. Hasilnya, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) nasional terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Bhinneka Tunggal Ika, Takdir Allah untuk Persatuan

Syafitri Irwan mengingatkan hakikat takdir keberagaman bangsa Indonesia. Perbedaan suku, etnis, geografis, dan latar belakang merupakan sunnatullah yang dirancang bukan untuk saling memusuhi, melainkan untuk saling mengenal (lita’arafu) dan melengkapi dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

“Allah menciptakan kita berbeda-beda bukan untuk saling membenci atau bermusuhan, melainkan untuk saling mengenal. Warga negara asing pun sangat salut dengan Indonesia yang terpisah pulau-pulau, suku, dan bahasa, tetapi memiliki akar persatuan yang sangat kuat. Pendiri bangsa kita dahulu berjuang keras merekatkan Indonesia hingga lahirlah Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa sikap kritis dan koreksi terhadap perjalanan bangsa merupakan hal yang positif untuk kemajuan negara, selama disampaikan secara konstruktif dan tidak merusak persatuan. “Yang dinilai di hadapan Allah bukanlah perbedaan, melainkan tingkat ketakwaan dan kesalehan kita.”

Wasathiyah, Ideologi Sehat untuk Generasi Emas

Dalam arahannya, Kakanwil Kemenag kembali menekankan bahwa kesadaran moderasi dan kerukunan ini harus dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali. Dengan begitu, Indonesia tetap teguh menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Acara ini menjadi langkah konkret dalam transformasi ideologi, di mana mantan anggota JI yang kini menjadi peserta aktif diajak memahami dan mewujudkan ajaran Wasathiyah, jalur tengah yang moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.


Densus 88 dan Kemenag Sumsel telah menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar teori, melainkan jalan nyata yang sedang dibangun bersama untuk masa depan Indonesia yang damai dan berintegritas.

Indonesia Moderat. Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Jalin Kerjasama

GemaMerahPutih.com terbuka untuk kolaborasi dan kerjasama dengan seluruh lapisan masyarakat maupun lembaga. Silahkan hubungi kami:

Jenis Kerjasama

Form Pengaduan

Silahkan tuliskan pengaduan Anda di dalam form berikut: